Ilmu Filsafat pendidikan adalah bidang
yang baru pertama kali saya pelajari. Saat pertama kali ikut perkuliahan ini terus
terang saya tidak mengerti apa yang disampaikan. Saat diberikan kuis yang berjumlah
50 soal, saya bingung apakah harus mencari sinonim, antonim, atau yang lain. Pada
pertemuan selanjutnya akhirnya saya tahu bahwa yang dijawab untuk kuis adalah
analogi dari istilah-istilah yang ditanyakan. Tetapi kemudian jawaban yang
disampaikan oleh Prof. Marsigit sering membuat saya bingung dan sering bertolak
belakang dengan pemahaman yang sudah saya miliki. Tiga pertemuan pertama kuliah
filsafat pendidikan membuat kepala saya sering pusing. Akhirnya saya putuskan
untuk memainkan analogi dalam pikiran saya. Saya menganalogikan pikiran dan
pemahaman yang sudah saya memiliki sebagai sebuah gelas yang telah terisi. Saat
perkuliahan filsafat pendidikan, gelas tersebut saya ganti dengan gelas yang
kosong agar saya bisa menerima apa yang Prof. Marsigit sampaikan tanpa harus
mempertentangkannya dengan pemahaman yang sudah saya miliki. Walhasil, selama
pertemuan berikutnya, saya jadi bisa mengikuti perkuliahan dengan lebih tenang
dan berusaha memahami apa yang Prof. Marsigit sampaikan. Saat membaca artikel pada https://powermathematics.blogspot.com/
ternyata banyak sekali pembahasan bidang filsafat yang selama ini saya
cari-cari karena begitu banyak pertanyaan yang muncul dalam benak saya
selama belajar mata kuliah filsafat ini. Saya memutuskan untuk membeli
tablet android agar bisa terus membaca blogspot tersebut dengan lebih
nyaman dan santai. Paragraf berikutnya
dari tulisan ini akan menjelaskan hal apa saja yang sudah saya peroleh
selama
perkuliahan.
Objek
filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Masalah filsafat adalah
menjelaskan apa yang ada di dalam pikiran dan mengetahui atau memahami apa yang
ada di luar pikiran. Filsafat menggunakan bahasa analog. Contoh: kata ragu-ragu
merupakan bahasa orang awam. Dalam kajian filsafat, kata ragu-ragu berubah menjadi
skeptisism. Tingkatan dimensi filsafat: material, formal, normatif, spiritual.
Ragu-ragu adalah dimensi material, dalam dimensi spiritual adalah godaan syaitan,
dalam dimensi formal adalah kontradiksi, dalam dimensi normatif adalah
skeptisism.
Rene
Descartes pernah bermimpi satu macam saja, sehingga ia tidak bisa membedakan
antara mimpi atau kenyataan. Itulah contoh keragu-raguan yang dialami Rene
Descartes. Untuk membedakan mimpi atau nyata adalah dengan cara bertanya.
Ketika ia bertanya (skeptisism), maka ia berpikir (rasionalism). Sehingga
skeptisism muncul bersamaan dengan rasionalism. Berfilsafat haruslah didasarkan
pada filsuf tertentu.
Infinit
regres adalah lapisan-lapisan metafisis atau lapisan-lapisan kualitas. Lapisan
pertama atau kualitas pertama adalah yang dapat terlihat langsung. Dimana rumah
anda?, jawabnya ada di dalam bahasa. Karena filsafat kontemporer adalah
filsafat analitik yang ada di dalam bahasa. Ikhlas dalam hati adalah ikhlas dalam
arti biasa. Ikhlas dalam pikir adalah mengerti.
Kontradiktif
adalah ilmu. Komponen utama idealita adalah konsistensi dari konsep-konsep.
Konsep-konsep adalah definisi adalah dunia adalah ruang adalah waktu. Jiwa
adalah naumena (di luar fenomena/tidak dapat dipersepsi). Tindakanku tidak bisa
mengejar tulisanku, tulisanku tidak bisa mengejar kata-kataku. Kata-kataku
tidak mampu mengejar pikiranku. Pikiranku tidak mampu mengejar perasaanku/hati.
Di dalam hati ada keyakinan.
Fenomena
hidup adalah siklik dan linear. Contoh siklik adalah matahari yang terbit
setiap hari. Contoh linear adalah waktu yang tidak bisa kembali. Gabungan
siklik dan linear adalah spiral. Ada tiga jenis spiral yaitu: tetap,
mengembang, meruncing/mengurangi. Sebenar-benar hidup adalah spiral yang
meruncing. Meruncing itu artinya fokus. Fokus itu memilih. Setiap titik pada
spiral juga memilih apakah akan tetap, mengembang, atau meruncing.
Filsafat
gunung, puncaknya di atas. Andaikata puncaknya di bawah maka matematika atau
relatif, bisa juga ada gunung yang lebih kecil sehingga puncaknya ada di bawah
dari gunung yang lebih tinggi.
Saat
diberikan tugas untuk mengidentifikasi masalah filsafat dalam asesmen di bidang
pendidikan matematika, saya jadi memahami betapa pentingnya landasan filosofis
suatu objek kajian. Saya jadi mengetahui bahwa terdapat pertentangan antara
matematika yang landasan filosofisnya berasal dari platonisme dan matematika
yang landasan filosofisnya adalah kontruktivisme. Dengan mengetahui landasan
filosofis suatu objek kajian, pembahasan kita akan menjadi lebih tajam dan
langsung ke akar masalahnya. Sehingga mata kuliah filsafat pendidikan ini sudah
sangat memadai untuk dijadikan landasan dalam pembuatan disertasi. Terima kasih
saya ucapkan kepada Guru Besar Prof. Marsigit, MA selaku dosen pengampu mata kuliah
Filsafat Pendidikan.#Marsigit
#PEP S3 UNY
#Guru Besar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar