Kamis, 16 Januari 2020

Marsigit Point of View: Sebuah Review Perkuliahan Filsafat Penelitian dan Evaluasi Pendidikan di Pascasarjana UNY

Ilmu Filsafat pendidikan adalah bidang yang baru pertama kali saya pelajari. Saat pertama kali ikut perkuliahan ini terus terang saya tidak mengerti apa yang disampaikan. Saat diberikan kuis yang berjumlah 50 soal, saya bingung apakah harus mencari sinonim, antonim, atau yang lain. Pada pertemuan selanjutnya akhirnya saya tahu bahwa yang dijawab untuk kuis adalah analogi dari istilah-istilah yang ditanyakan. Tetapi kemudian jawaban yang disampaikan oleh Prof. Marsigit sering membuat saya bingung dan sering bertolak belakang dengan pemahaman yang sudah saya miliki. Tiga pertemuan pertama kuliah filsafat pendidikan membuat kepala saya sering pusing. Akhirnya saya putuskan untuk memainkan analogi dalam pikiran saya. Saya menganalogikan pikiran dan pemahaman yang sudah saya memiliki sebagai sebuah gelas yang telah terisi. Saat perkuliahan filsafat pendidikan, gelas tersebut saya ganti dengan gelas yang kosong agar saya bisa menerima apa yang Prof. Marsigit sampaikan tanpa harus mempertentangkannya dengan pemahaman yang sudah saya miliki. Walhasil, selama pertemuan berikutnya, saya jadi bisa mengikuti perkuliahan dengan lebih tenang dan berusaha memahami apa yang Prof. Marsigit sampaikan. Saat membaca artikel pada https://powermathematics.blogspot.com/ ternyata banyak sekali pembahasan bidang filsafat yang selama ini saya cari-cari karena begitu banyak pertanyaan yang muncul dalam benak saya selama belajar mata kuliah filsafat ini. Saya memutuskan untuk membeli tablet android agar bisa terus membaca blogspot tersebut dengan lebih nyaman dan santai. Paragraf berikutnya dari tulisan ini akan menjelaskan hal apa saja yang sudah saya peroleh selama perkuliahan.
Objek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Masalah filsafat adalah menjelaskan apa yang ada di dalam pikiran dan mengetahui atau memahami apa yang ada di luar pikiran. Filsafat menggunakan bahasa analog. Contoh: kata ragu-ragu merupakan bahasa orang awam. Dalam kajian filsafat, kata ragu-ragu berubah menjadi skeptisism. Tingkatan dimensi filsafat: material, formal, normatif, spiritual. Ragu-ragu adalah dimensi material, dalam dimensi spiritual adalah godaan syaitan, dalam dimensi formal adalah kontradiksi, dalam dimensi normatif adalah skeptisism.
Rene Descartes pernah bermimpi satu macam saja, sehingga ia tidak bisa membedakan antara mimpi atau kenyataan. Itulah contoh keragu-raguan yang dialami Rene Descartes. Untuk membedakan mimpi atau nyata adalah dengan cara bertanya. Ketika ia bertanya (skeptisism), maka ia berpikir (rasionalism). Sehingga skeptisism muncul bersamaan dengan rasionalism. Berfilsafat haruslah didasarkan pada filsuf tertentu.
Infinit regres adalah lapisan-lapisan metafisis atau lapisan-lapisan kualitas. Lapisan pertama atau kualitas pertama adalah yang dapat terlihat langsung. Dimana rumah anda?, jawabnya ada di dalam bahasa. Karena filsafat kontemporer adalah filsafat analitik yang ada di dalam bahasa. Ikhlas dalam hati adalah ikhlas dalam arti biasa. Ikhlas dalam pikir adalah mengerti.
Kontradiktif adalah ilmu. Komponen utama idealita adalah konsistensi dari konsep-konsep. Konsep-konsep adalah definisi adalah dunia adalah ruang adalah waktu. Jiwa adalah naumena (di luar fenomena/tidak dapat dipersepsi). Tindakanku tidak bisa mengejar tulisanku, tulisanku tidak bisa mengejar kata-kataku. Kata-kataku tidak mampu mengejar pikiranku. Pikiranku tidak mampu mengejar perasaanku/hati. Di dalam hati ada keyakinan.
Fenomena hidup adalah siklik dan linear. Contoh siklik adalah matahari yang terbit setiap hari. Contoh linear adalah waktu yang tidak bisa kembali. Gabungan siklik dan linear adalah spiral. Ada tiga jenis spiral yaitu: tetap, mengembang, meruncing/mengurangi. Sebenar-benar hidup adalah spiral yang meruncing. Meruncing itu artinya fokus. Fokus itu memilih. Setiap titik pada spiral juga memilih apakah akan tetap, mengembang, atau meruncing.
Filsafat gunung, puncaknya di atas. Andaikata puncaknya di bawah maka matematika atau relatif, bisa juga ada gunung yang lebih kecil sehingga puncaknya ada di bawah dari gunung yang lebih tinggi.
Saat diberikan tugas untuk mengidentifikasi masalah filsafat dalam asesmen di bidang pendidikan matematika, saya jadi memahami betapa pentingnya landasan filosofis suatu objek kajian. Saya jadi mengetahui bahwa terdapat pertentangan antara matematika yang landasan filosofisnya berasal dari platonisme dan matematika yang landasan filosofisnya adalah kontruktivisme. Dengan mengetahui landasan filosofis suatu objek kajian, pembahasan kita akan menjadi lebih tajam dan langsung ke akar masalahnya. Sehingga mata kuliah filsafat pendidikan ini sudah sangat memadai untuk dijadikan landasan dalam pembuatan disertasi. Terima kasih saya ucapkan kepada Guru Besar  Prof. Marsigit, MA selaku dosen pengampu mata kuliah Filsafat Pendidikan.

#Marsigit
#PEP S3 UNY
#Guru Besar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar